Transaksi Online Terus Tumbuh Meski Industri Ritel Melemah

TRANSAKSI melalui perdagangan elektronik atau e-commerce terus mengalami pertumbuhan di tengah melambatnya pertumbuhan ritel konvensional.

Menurut Ketua Bidang Bisnis dan Ekonomi Asosiasi E-Commerce Indonesia (iDea) Ignatius Untung menyebut transaksi e-commerce mengalami pertumbuhan sebesar 30% sampai 50% pada 2017 dibandingkan dengan tiga tahun lalu. Pada 2016, total nilai transaksi e-commerce di seluruh dunia menembus US$5,6 miliar.

“Indonesia berkontribusi sekitar 50% dari pengeluaran e-commerce pada 2025 dan investasi e-commerce sampai dengan 2017 diprediksi mencapai US$9 miliar. Kondisi tersebut, menyimpan potensi bagi perekonomian digital Indonesia. Apalagi besaran transaksi e-commerce belum menembus 2% dari total transaksi perdagangan konvensional di dalam negeri,” ujarnya.

Dikatakan, kendati demikian, beberapa sektor semakin terancam dengan pertumbuhan perdagangan elektronik. Tak terkecuali, ritel konvensional.

Sementara Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan pemerintah harus melakukan terobosan kebijakan guna mendongkrak kinerja sektor itu. Salah satunya dengan merelaksasi sejumlah aturan.

“Saya berharap pemerintah dapat memberikan relaksasi kepada peritel dalam hal pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta Pajak Penghasilan (PPh) Badan Usaha. Dua pungutan tersebut menurutnya dapat dihilangkan pada periode tertentu, misalnya saat transaksi menurun pada Oktober hingga November setiap tahunnya,” katanya.

Ditambahkannya, selain pungutan pajak, sambungnya, pemerintah diharapkan memberikan insentif tarif listrik kepada toko ritel modern. Pasalnya, saat ini peritel dikenakan biaya sama seperti pelanggan komersial. Di sisi lain, saya juga menagih revisi Peraturan Presiden (Perpres) Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern. Hingga saat ini, beleid tersebut tak kunjung diketok oleh regulator.

“Sekarang memang 2 tahun [ritel modern] under perform. Kami pelaku usaha bilang ada benar perubahan perilaku konsumen. Seperti diketahui, Nielsen Company Indonesia mencatat penjualan ritel nasional hingga September 2017 hanya tumbuh 2,7%. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu pertumbuhan dapat menembus 9%,” ungkapnya.

Dijelaskannya kembali, secara keseluruhan, pertumbuhan industri ritel modern hanya menembus 3,3% sampai dengan September 2017. Pencapain tersebut jauh dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 9,5%. Nielsen memprediksi kinerja ritel sepanjang tahun ini sulit menyampai pencapaian tahun sebelumnya. Diperkirakan, industri ritel nasional hanya tumbuh pada kisaran 2,5%—3% atau lebih kecil dibandingkan dengan 2016 sebesar 9%. [bisnis.com/photo special]