Kunjungan Wisatawan Asing ke Jabar Naik-Turun Setiap Bulan

ANGKA kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Barat sering naik-turun setiap bulannya. Padahal, tahun ini Jawa Barat tengah membidik angka kunjungan wisman mancanegara sebanyak 7,5 juta wisman atau naik 10% sepanjang tahun 2017 lalu.

Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, pada Februari 2018 kunjungan wisman mancanegara melalui bandara Husein Sastranegara, Bandung, mengalami kenaikan. Pada Februari, tercatat kunjungan wisman ke Jabar sebanyak 12.212 orang atau naik 7,59% ketimbang Januari 2018 sebesar 11.351 orang. Namun demikian, angka itu masih rendah dibandingkan bulan Desember 2017 yang diperoleh sebanyak 17.766 orang.

Secara year on year atau rentang waktu Februari 2017-Februari 2018, angka kunjungan wisman pada bulan Februari 2017 sebanyak 13.410 orang. Dengan selisih sekitar 1.000 orang, tentu menjadi catatan tersendiri mengapa angka tersebut sangat melonjak jauh.

Menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Jawa Barat Budijanto Ardiansyah mengatakan, efek penerbangan langsung ke Jawa Barat ternyata bisa memengaruhi angka kunjungan wisman. Contoh, adanya penerbangan langsung seperti dari Malaysia dan singapura ke Jabar khususnya Bandung nyatanya memberikan efek positif. Hal ini lantaran akan memudahkan wisman untuk berlibur atau berbisnis di Jabar.

“Memang benar, wisman ke Jabar menurut data BPS masih didominasi wisman dari kedua negara itu. Wisman asal Asia seperti Jepang, Korea Selatan dan India juga masih terlihat prospektif. Adapun wisman Malaysia pada Februari 2018 tercatat 8.645 orang, diikuti oleh wisman Singapura sebanyak 2.015 orang. Setiap bulannya, kunjungan wisman dari kedua negara itu cenderung stagnan maupun naik tipis,” ujarnya.

Dikatakan, dilihat dari rilis BPS, kunjungan wisman dari Eropa juga masih terhitung sedikit setiap bulannya. Kunjungan terbanyak berasal dari Asia. Pada Februari, wisman yang mengalami peningkatan berasal dari Thailand, Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Sementara yang mengalami penurunan antara lain Australia, Inggris, Belanda, Jerman dan Arab Saudi.

“Di samping itu, saya berpandangan bahwa Jabar bukanlah menjadi tujuan utama bagi wisman di luar Malasyia dan Singapura untuk berwisata. Sehingga naik-turunnya kunjungan wisman kerap terjadi. Wisatawan mancanegara di luar negara Malaysia dan Singapura cenderung lebih sedikit mengunjungi Jawa Barat karena Jawa Barat bukan tujuan utama mereka untuk berwisata," katanya.

Efek Domino

Naik-turunnya kunjungan wisman ke Jabar turut pula pada naik-turunnya okupansi hotel baik bintang maupun nonbintang. Pada Februari, BPS mencatat okupansi hotel di Jabar juga tidak seimbang. Meski okupansi hotel berbintang pada Februari mencapai 53,47% atau naik 4,13 poin dari Januari, namun angka itu cenderung turun bila dibandingkan dengan Desember 2017 yang tercatat 56,67%. Kenaikan pada Februari juga tidak dibarengi dengan okupansi hotel nonbintang yang cenderung turun dengan okupansi hanya 30,58%. Khusus hotel nonbintang, nasibnya memang terus tergerus.

Menurut Kepala BPS Jabar Dody Herlando mengatakan, ketidakseimbangan ini perlu diperhatikan. Padahal bisnis ini, kata dia, merambah sampai ke ekonomi lemah. Ini patut untuk mengalami perbaikan.

Sementara itu, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat Herman Muchtar menilai saat ini banyak wisatawan yang tidak lagi memilih Jabar sebagai tujuan utama berlibur atau berbisnis. Sehingga okupansi menjadi naik-turun setiap bulannya.

“Wisatawan berada di titik jenuh dengan destinasi wisata yang itu-itu saja di Jawa Barat. Belum lagi dengan banyaknya volume kendaraan yang menyebabkan kemacetan,” ungkap Herman. [antaranews/photo special]