Pengembangan Perhotelan Kawasan Buleleng Pacu Potensi Bali Utara

RENCANA Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) mengembangkan kawasan Buleleng di wilayah utara Bali guna memaksimalkan potensi wisatawan asing masuk akan memberikan dampak positif bagi potensi Bali utara yang selama ini belum tergali.

Menurut Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan rencana ini akan berdampak positif bagi distribusi pengembangan kawasan yang lebih merata. Pasalnya selama ini rencana pembangunan utamanya terkonsentrasi pada wilayah selatan Bali.

“Di sisi lain rencana ini memberikan tantangan pengembangan infrastruktur yang memadai untuk menciptakan konektivitas. Pemerintah juga telah merencanakan pembangunan bandara baru di Buleleng meskipun lokasi pastinya masih belum diungkapkan,” ujarnya.

Dikatakan, di luar itu pemerintah juga memiliki rencana mengembangkan Celukan Bawang Port mulai Desember 2017 kapal pesiar yang membawa penumpang. Ada sekitar 5.000 penumpang  dan kru yang aka nada setiap kali pelayaran.

“Belum lagi dengan ekspansi Benoa Port yang menciptakan optomisme bagi pasar pariwisata di Bali khususnya untuk mendongkrak kinerja perhotelan. Pengembangan wilayah Bali utara juga menjadi kabar positif di tengah kondisi kelebihan pasokan hotel dialami wilayah Bali. Sebab kondisi itu tak hanya menciptakan persaingan tarif yang tidak sehat, namun juga merugikan pekerja di sektor tourism,” katanya.

Ditambahkannya, tarif kamar yang ditawarkan menjadi terlalu rendah untuk menarik wisatawan, berdampak pada menurunnya pendapatan para pekerja di sektor itu. Hal itu tergambarkan dalam tingkat rata-rata tariff harian kuartal ini yang lebih rendah dibandingkan 2014 dan 2015 pada periode yang sama.

“Pasar hotel Bali sedikit mirip dengan properti komersial di Jakarta, di mana saat ini tamu hotel dibanjiri pilihan banyaknya akomodasi. Wisatawan pun mempertimbangkan alaternatif hotel yang baru denagn fasilitas lengkap di haraga yang lebih kompetitif. Pembangunan hotel masih sah saja untuk terus berlanjut di Bali namun dengan adanya zonasi yang terukur. Zonasi perlu dilakukan berdasarkan karakteristik dan klasifikasi wilayah Bali. Zonasi yang tak teratur lanjut dia telah menimbulkan persaingan harga yang tidak wajar,” ungkapnya.

Dijelaskannya kembali, misalnya kawasan hotel di nusa dua itu dizonasikan sebagai pembangunan hotel  bintang lima semua, enggak bisa digabung dengan pembangunan hotel melati, Itu membuat kawasan ekslusif dirusak. Kami menjual kamar dua tiga juta tapi ada yang menyewakan di atas 600 ribu. Jadi merusak pasar.

Sementara Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Hariyadi Sukamdani menyambut positif pengembangan wilayah destinasi baru yang diharapkan dapat menarik investor asing untuk dapat terlibat dalam pengembangan wilayah destinasi baru.

Hariyadi masih mengharapkan akan adanya peningkatan okupansi pada akhir tahun sebesar 5%. Upaya itu dilakukan dengan mencari alternatif pasar baru, dan berbagai promosi untuk menaikkan wisatawan asing sejalan dengan memperkuat kunjungan wisatawan domestik. [bisnis.com/photo special]