Bali Perlu Pasokan Energi Lebih, Antisipasi Event & Sport Tourism

PELAKU pariwisata mengharapkan ada pasokan energi bagi Bali untuk menjamin keberlangsungan industri pariwisata yang banyak mengkonsumsi listrik.

Menurut Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali Ida Bagus Agung Partha menyetujui adanya proyek Jawa Bali Crossing untuk memenuhi pasokan listrik perhotelan di Pulau Dewata. Bali sangat memerlukan tambahan pasokan listrik bukan hanya karena kebutuhan pembangunan hotel melainkan untuk mengembangkan event atau sport tourism. Justru, event tourism ini yang lebih banyak memerlukan pasokan listrik ketimbang perhotelan. Sebaliknya, pembangunan perhotelan justru harus dihentikan sebab sudah over capacity.

"Kedepannya kita harus bisa mengembangkan event Tourism maupun Sport tourism di mana hal tersebut membutuhkan energi listrik yang besar.  Saya juga mengharapkan apapun proyek yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik industri pariwisata di Bali harus berlandaskan Tri Hita Karana, yakni harmoni antar sesama manusia, lingkungan, dan Tuhan,” ujarnya.

Dikatakan, harapan saya ini bisa terlaksana, tinggal diatur jangan sampai menganggu pura atau tempat wisata yang sudah ada.

Sementara, Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali I Ketut Ardana mengatakan pasokan listrik di Bali sangat penting karena akan sangat mempengaruhi pariwisata. Jika pasokan listrik kurang, maka parisata terganggu. Setelahnya, banyak wisatawan akan mengeluh.

"Misal hotel yang listriknya hidup mati hidup mati cepat atau lambat hotel itu pasti akan ditinggalkan oleh pelanggan," katanya.

GM PLN Area Distribusi Bali I Nyoman Suwarjoni menyatakan pihaknya sudah menghitung kebutuhan energi Bali hingga 2030 mendatang. Dengan perkiraan pertumbuhan konsumsi listrik di daerah ini rata-rata 8,5% per tahun, maka diperkirakan pasokan energi Bali saat ini akan tersisa kurang dari 30% pada 2020 mendatang.

Padahal, pertumbuhan konsumsi listrik di destinasi wisata ini per tahun selalu di atas 10% kecuali pada 2017 sempat turun. Jika tahun ini kembali normal, maka beban puncak pada 2020 sebesar 1.000 MW. Hal itu disebabkan tingginya tingkat konsumsi segmen bisnis khususnya pelaku pariwisata. Saat ini kapasitas pasokan listrik Bali sekitar 1.500 MW dengan beban puncak sekitar 830 MW.

“Sebenarnya pada 2019 kapasitas cadangan untuk Bali di bawah 30%, tapi kan pertumbuhan 2017 turun maka beban puncak turun. Maka kemungkinan baru habis 2021 kapasitas akan dalam kondisi siaga. Itu seperti ketika 2015 lalu cadangan tinggal 150 MW dan ketika ada pemeliharaan di Gilimanuk maka ada pemadaman bergilir,” jelasnya.

Menurutnya, dalam RUPTL PLN sudah ditetapkan bahwa mengantisipasi kondisi tersebut maka akan dibangun Jawa Bali Crossing, yakni kabel transmisi yang mampu mengalirkan listrik 50 Kv dari Paiton, Jawa Timur. Di Watudodol, Banyuwangi dan Segara Rupek, Kabupaten Buleleng akan dibangun tranmisi setinggi 360 meter untuk mengalirkan listrik hingga Antosari, Tabanan, Bali.

Joni menegaskan dengan adanya kabel transmisi tersebut, kemampuan transfer listrik yang bisa dialirkan bisa mencapai 2.600 MW. Dengan begitu maka Bali sampai 2027 tidak perlu membangun pembangkit karena sudah tercukup kapasitas energinya melalui transfer dari Jawa. [antaranews/photo special]