Ekspansi, Adonara Hotels Group Kini Mulai Jajaki Pasar Eropa

TERNYATA Adonara Hotels Group, jaringan operator dan pemilik hotel, telah menyiapkan investasi hingga Rp100 miliar untuk membuka cabang hotel baru di Eropa pada tahun ini.

Menurut CEO Adonara Hotels Group Ruben Amor menjelaskan, pihak hotel group berencana membuat perusahaan patungan dengan mitranya yang merupakan pemilik hotel di Berlin, Jerman. Dalam perusahaan tersebut, pihaknya menggenggam porsi minoritas sebesar 25% dan menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang operasional.

“Ke depannya, paling lama dua bulan dari sekarang akan ekspansi ke Eropa dengan mitra strategis untuk men-develop brand Adonara di Berlin. Saya memang cukup ekstrim dalam hal ini. Diakui memang lebih tertarik mengembangkan brand-nya sendiri di kancah internasional, ketimbang mengembangkan brand perhotelan internasional di dalam negeri. Setelah Berlin, pihak kami tengah membidik pasar ASEAN yakni Malaysia dan Filipina untuk langkah selanjutnya,” ujarnya.

Dikatakan, adapun di  dalam negeri, pihaknya menargetkan untuk mengelola total 18 hotel baru, di mana 2 di antaranya yaitu di Solo dan Bekasi merupakan hotel milik Adonara Group dengan brand Arnava Hotel. Sementara sisanya pihaknya berperan sebagai operator hotel.

“Salah satu keunggulan kita, Adonara tidak hanya sebagai hotel operator tetapi juga men-develop beberapa hotel di bawah grup sendiri. Hotel Arnava di Kawasan Senen, Jakarta Pusat yang baru diluncurkan belum lama ini dan merupakan hotel pertama yang didirikan oleh Adonara Group. Pihaknya mengaku menggelontorkan investasi sebesar Rp80 miliar untuk mengakuisisi hotel yang memiliki 80 kamar ini. Dengan tingkat keterisian minimal 75%, pihak hmanajemen mengestimasikan pengembalian investasinya membutuhkan waktu 8 tahun,” ungkapnya.

Ditambahkannya, bisnis pengembangan hotel bintang dua dan tiga jauh lebih menjanjikan ketimbang hotel kelas atas bintang empat dan lima. Pasalnya, pasar untuk hotel bintang dua dan tiga jauh lebih besar dan modal yang dibutuhkan pun tidak sebesar hotel papan atas.

“Kita lebih fokus bermain di bintang 2,3 karena market lebih besar modal relatif kecil. Hotal bintang 2 hitungan investasi per kamar Rp400 juta, margin bisa sampai 40%. Hotel bintang 5, marginnya hanya sekitar 30%. Untuk segmentasi pasar, dia menyatakan sebanyak 40% mengandalkan pesanan dari pemerintah, sementara sisanya dari perusahaan. Namun tingkat keterisian oleh perusahaan swasta relatif berbeda-beda di setiap daerah, di mana kota metropolitan lebih ramai sedangkan kabupaten/kota cenderung lebih sepi,” ungkapnya.

Dijelaskannya kembali, saya menilai momentum pilkada serentak pada tahun ini dapat mendongkrak bisnis hotelnya yang tersebar di beberapa daerah. Melalui brand hotel yang berbeda-beda seperti Arnava, U-Stay, hingga hotel berbintang empat Amanuba di Rancamaya, pihak kami optimistis dapat mengoperasikan total  18 hotel baru pada 2019. [photo special]