Umat Islam dan Hindu Ramaikan Festival Perang Topat Lombok Barat

ADA peperangan di Pura Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu (3/12) sore. Jangan salah sangka dulu, peperangan itu bukan suatu kericuhan. Tidak ada senjata tajam, amunisinya juga bukan dari peluru. Melainkan dengan ketupat, peperangan itu merupakan suatu atraksi budaya tahunan. Ribuan masyarakat tumpah ruah, begitu juga dengan  ratusan wisatawan mancanegara yang menggunakan pakaian adat yang datang ke Pura Lingsar.

Di Pura yang menjadi satu cagar budaya dari abad XVIII itu. Para umat islam dan hindu dari sejumlah wilayah di Lombok Barat datang memenuhi area pura untuk berperang. Begitu kedua kubu bertemu, aksi saling lempar tak terelakkan. Anak-anak hingga orang tua larut dalam peperangan. Namun, tak ada darah, dan juga air mata.

Perang ini justru menimbulkan gelak tawa dan rasa gembira. Perang yang dikenal dengan sebutan Perang Topat  merupakan tradisi yang berlangsung turun-temurun dan masih terjaga hingga kini.

Sebelum prosesi perang topat yang didukung Kementerian Pariwisata dimulai, sebagian massa mengambil tempat di halaman Pura Gaduh, yang menjadi tempat persembahyangan umat Hindu. Sedangkan, sebagian lagi berada di halaman depan bangunan Kemaliq, yang disakralkan bagi sebagian masyarakat umat Islam.

Menurut Wakil Gubernur NTB Muhammad Amin mengatakan, perang topat merupakan tradisi budaya yang harus dilestarikan. Menurut Amin, Perang Topat merupakan wujud nyata toleransi kerukunan umat beragama di Lombok. Amin menilai, tradisi Perang Topat juga memiliki daya tarik bagi sektor pariwisata NTB.

"Perang yang tidak ada pernah ada rasa menang dan kalah. Ini event budaya yang terus kita lestarikan dan kembangkan," kata Amin dalam sambutannya sebelum membuka prosesi Perang Topat.

Usai menyampaikan pembukaan, Amin langsung memberi aba-aba pertanda perang dimulai. Tanpa ragu, Amin bersama Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid, Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat Lalu Muhammad Fauzal, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Ispan Junaidi, mewakili Kementerian Pariwisata hadir Ganda Sumantri Kepala Bidang Profil Asdep Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara yang mengawali prosesi perang dengan melemparkan ketupat mini.

Begitu aba-aba perang dimulai, massa kedua kubu yang tampak sudah tidak sabar langsung berebut ketupat dan melemparkannya ke arah lawan. Tak ada amarah, baik Umat Islam maupun umat Hindu justru saling lepas tawa untuk saling membalas lemparan.

Ispan Junaidi mengatakan, Perang Topat ini merupakan prosesi religi dan budaya, yang kita kemas menjadi atarksi wisata. Festival ini menjadi salah satu calender of event di Lombok Barat, mudah-mudahan ini bisa meningkat bisa dikenal lagi hingga dunia.

“Perang Topat ini tidak ada rasa menang dan kalah. Atraksi ini kita pertahankan sebagai salah satu bentuk toleransi beragama yang dicanangkan presiden. Tidak ada perpecahan antara umat Hindu dan umat Islam. Akhrinya nanti, akan timbul simbol-simbol perdamaian di festival ini, sehingga diharapkan menjadi deatinasi kelas dunia,” harap Ispan. [traveltextonline.com]