Panorama Destination Dukung Pariwisata Berkelanjutan di Wakatobi

PARIWISATA saat ini tengah berkembang pesat, menurut Benchmark Report dari World Travel & Tourism Council, pada tahun 2016 kontribusi industri pariwisata terhadap GDP secara global mencapai USD$2,3 triliun. Di Indonesia sendiri, pariwisata berkontribusi sebesar USD$58 juta terhadap GDP negara.

Menurut Renato Domini, CEO Panorama Destination mengatakan tentunya pertumbuhan ini harus memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang positif terhadap masyarakat lokal maupun wisatawan yang datang. Perhatian khusus ini dikampanyekan oleh United Nations World Tourism Organization sebagai sustainable tourism, atau pariwisata yang berkelanjutan.

“Daftar destinasi indah di Indonesia tentunya bisa jadi puluhan, bahkan ratusan, namun jika masyarakat lalai menjaga lingkungan dan budaya maka pariwisata tidak akan bertahan. Dalam kampanye sustainable tourism, ditekankan bagaimana pentingnya menjaga lingkungan dan budaya dalam pariwisata, terutama terkait perlindungan alam,” ujarnya.

Dikatakan, sebagai Destination Management Company, Panorama Destination paham akan pentingnya menjaga lingkungan demi kelangsungan pariwisata di suatu lokasi. Kita perlu bekerja sama untuk menjaga pariwisata Indonesia. Masyarakat perlu diingatkan untuk menjaga lingkungannya, dan bukan sekedar mengejar keuntungan yang cepat.

“Panorama Destination (Destinasi) berkomitmen untuk menjalankan sustainable tourism. Baru-baru ini Destinasi menandatangani dukungan terhadap program Adopt a Reef di Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Taman Nasional yang tersisip di Sulawesi Tenggara ini merupakan salah satu dari 10 destinasi “Bali baru” yang tengah dipromosikan oleh Pemerintah Indonesia,” katanya.

Ditambahkannya, dengan gencarnya promosi pemerintah dan dibukanya akses yang lebih banyak untuk mencapai Wakatobi, peningkatan jumlah wisatawan pun terjadi secara signifikan. Namun hal ini tidak seirama dengan kesiapan masyarakat setempat dalam mengelola lingkungannya Wakatobi yang diresmikan sebagai Taman Nasional pada tahun 1996 mencakup kawasan seluas 1,39 juta hektar; dimana 97% merupakan perairan dan 3% berupa gugusan kepulauan dengan 4 pulau terbesar yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

“Kedatangan wisatawan telah membawa peningkatan jumlah sampah di Wakatobi. Tidak hanya mengganggu aktivitas wisata, sampah juga dapat merusak ekosistem Wakatobi yang merupakan bagian dari kawasan Segitiga terumbu karang (Coral Triangle) dengan ragam terumbu karang dan ikan yang sangat kaya. Destinasi berkomitmen untuk membantu masyarakat Wakatobi dalam pengelolaan limbah melalui Yayasan Konservasi Alam Nusantara, afiliasi lokal dari The Nature Conservancy (TNC) Indonesia. Dalam program ini, akan melakukan pendekatan terhadap masyarakat terkait pengelolaan sampah yang efektif dan menguntungkan, khususnya di Pulau Kaledupa, selama satu tahun ke depan,” ungkapnya.

Sementara AB. Sadewa, Wakil Ketua Panorama Foundation, mengatakan Panorama Foundation mendukung komitmen seluruh perusahaan dalam Panorama Group untuk menjalankan sustainable tourism, terutama Panorama Destination yang beroperasi di Indonesia. Kita perlu mengingatkan warga Indonesia untuk menjaga dan melestarikan alam kita, karena alam merupakan modal pariwisata Indonesia yang paling berharga dan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui.

“Lingkungan selama ini sudah memberikan banyak manfaatnya bagi kehidupan. Saatnya kita mengambil peran untuk melindunginya. TNC Program Indonesia percaya bahwa konservasi bukan hanya tugas pemerintah atau LSM lingkungan saja melainkan tugas kita semua. Dukungan korporasi seperti Panorama terhadap upaya-upaya pengendalian sampah di Wakatobi sangat kami apresiasi. Semoga dengan terkendalinya sampah, alam Wakatobi dapat pulih dan mendukung perkembangan ekowisata di Indonesia,” kata AB Sadewa. [traveltextonline.com]