Pesona Puncak B29, Negri di Atas Awan Bisa Jadi Destinasi Wisata Baru

MUNGKIN Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mulai sekarang sudah harus sadar bahwa potensi wisata Bukit 29 atau puncak B29 di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTS), yang dijuluki Negri di Atas Awan bisa menjadi destinasi wisata baru menakjubkan.

Untuk menyaksikan secara langsung sejumlah wartawan Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) untuk mengikuti kegiatan tersebut yang bertajuk Promosi Pariwisata Mancanegara pada Media Nasional di Malang 10-12 November 2017. Di saat pagi buta di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Subuh itu, rombongan ojek motor yang membawa sekitar 30 wartawan berpacu menuju Bukit 29 atau puncak B29, untuk mengejar matahari terbit.

Memang medan yang ditempuh cukup menantang, yaitu melewati jalanan aspal, paving block, dan tanah dengan kemiringan 10 hingga 40 derajat serta beberapa tikungan tajam khas wilayah pegunungan. Di kanan kiri jalanan desa yang lebarnya bervariasi antara satu hingga tiga meter itu adalah ladang sayuran milik warga suku Tengger.

Ada yang sangat unik di sini, berbeda dengan ladang pada umumnya, lahan yang mayoritas ditanami kubis, bawang daun, dan kentang itu berada di kemiringan sekitar 70 derajat, dan para petani suku Tengger biasanya menanam dari atas ke bawah. Tak hanya itu, barisan bukit dan lembah menghijau disertai kabut dengan udara dingin mewarnai perjalanan penuh sensasi sekitar 15 menit tersebut.

Rombongan kami pun harus bersusah payah dulu untuk menembus kabut serta jalan setapak yang cukup terjal ini, karena apabila tidak hati-hati, bisa-bisa langsung terpelosok ke juran. Namun rata-rata para pengemudi ojek motor cukup piawai dalam mengendalikan medan yang sulit dan terjal tersebut di atas motornya.

Begitu sampai di gerbang Bukit 29, satu per satu motor berhenti dan diparkir di sana. Para pengunjung kemudian mendaki sekitar 100 meter ke puncak bukit yang sudah terlihat di depan mata. Di puncak B29 yang menjadi salah satu tujuan para wisatawan ke destinasi wisata baru di kawasan BTS itu memang untuk menyaksikan sunrise atau matahari terbit. Nah, momen terbaik adalah menunggu di atas bukit sejak pukul 04.00 WIB. Bahkan, tak sedikit pengunjung yang berkemah atau menggelar tenda di atas bukit dahulu disebut Songolikur (sebutan angka 29 dalam bahasa Jawa), untuk menyaksikan momen matahari terbit yang sangat menakjubkan itu.

Tak bisa dibahyangkan, sesampainya di puncak bukit berketinggian kurang lebih 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), lebih tinggi dari Gunung Bromo itu sendiri, mata para pengunjung dimanjakan pemandangan indah menawan pegunungan Tengger. Sayangnya, pada saat itu, matahari baru beranjak dari ufuk timur dan tak lama berselang ditutupi kabut tipis serta angin dingin berhembus cukup kencang.

Pesona sunrise di puncak B29 hanya dinikmati rombongan kecil pelancong yang lebih dahulu tiba atau berkemah sejak malam hari. Sedangkan rombongan besar yang datang kemudian tak berkesempatan menyaksikannya. Tapi kami pun cukup bersyukur kepada sang Maha Pencipta, bahwasanya kami masih diberi kesempatan untuk bisa menikmati keindahan alam yang sangat menakjubkan itu menyaksikan Gunung Bromo dan Gunung Semeru di atas ketinggian tersebut.

Setelah menikmati keindahan cukup lama di atas B29, kami pun harus turun sebelum kabut yang kian menebal saja, melanjutkan perjalanan ke Malang lewat Ratu Pane. Turun ke Argosari dan sempat mengunjungi pembuatan susu kambing Etawa dan ke Pura Madagiri dalam perjalanan ke Ratu Pane.

Setelah itu sempat coffe break di Pawon. Menu yang disajikan sesuai yang ditawarkan adalah Pawon yang artinya dapur dan disini hanya ada makanan rumahan saja sih yang bisa dinikmati plus penutup ada minuman kopi, teh, pisang goreng dan minuman hangat lainnya.

Dalam perjalanan ke Malang yang sempat tertahan lebih dari se-jam karena kondisi hujan lebat dan kondisi jalanan yang licin dan berlumpur membuat mobil yang kami tumpangi harus menunggu bala bantuan mobil derek agar bisa melewati jalanan yang licin dan berlumpur tersebut.

Akhirnya kami bisa melewati medan yang cukup berat dan sebelum menuju hotel tempat kami menginap, kami pun masih sempat menikmati makan malam terlebih dulu di Resto Inggil, lumayan untuk menghilangkan keteganggan selama perjalananan yang sempat membuat kami lelah.

Namun kami sangat yakin Puncak atau Bukit 29 bisa menjadi atraksi wisata yang menawan apabila dikelola dengan baik, memang perlu kerja keras semua pihak untuk mewujudkan hal tersebut, terutama Kementerian Pariwisata, kesiapan Badan Promosi Pariwisata Daerah, industri pariwisata serta lembaga-lembaga lainnya terkait untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Perlunya pembenahan/persiapan/SDM yang terukur di sini serta yang paling penting adalah persiapan sarana dan prasarana/infrastruktur/alat promosi tersebut meliputi: leaflet, booklet dan lainnya. Diharapkan ke depannya bisa masuk menjadi salah satu destinasi unggulan Indonesia. [traveltextonline.com/photo special]