Garuda Indonesia Terbelit Utang Akibat Korupsi Airbus A350

MANTAN Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Rizal Ramli menyebut ada unsur korupsi dalam pembelian pesawat Garuda Indonesia long route Airbus A350. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sendiri sudah membuktikan adanya permainan tersebut.

"Jadi banyak permainan duit. Padahal, Garuda Indonesia merupakan maskapai penerbangan kebangaan Indonesia dengan sejarah panjang. Terlebih, dengan kualitas service premium setara dengan perusahaan penerbangan dunia,” ujarnya.

Dikatakan, tapi ini jadi tertutup karena kesalahan di masa lalu yang terlalu jor- joran dalam membeli pesawat baru yang tidak tepat. Di dalam pembelian pesawat ada sogok menyogok, ada KKN, kemahalan sehingga akibatnya Garuda Indonesia dikubangi utang besar triliunan rupiah.

“Seharusnya para komisaris dan manajemen Garuda Indonesia berani menyatakan fakta tanpa ada kepentingan-kepentingan pribadi. Saya meminta komisaris dan manajemen berani menyatakan kebenaran sesuai fakta yang ada,” katanya.

Rizal mengaku sempat ditentang oleh beberapa pihak atas pernyataan kerasnya, padahal apa dikatakannya telah melalui proses evaluasi dan analisa.

"Semua yang kita sampaikan itu rasional, telah melalui evaluasi dan analitikal. Dulu saya ngomong begitu banyak yang protes tapi hampir semua yang kami katakan terbukti karena saya tidak asal bicara," kata dia.

Rizal juga menyarankan, agar persoalan yang ada harus segera dibenahi dengan cara me-reschedule pembelian pesawat atau dijual ke pihak ketiga.

"Jadi Garuda Indonesia fokus saja untuk meningkatkan pendapatan dari penerbangan domestik dan regional. Garuda juga akan lebih tepat jika membeli pesawat Airbus 330 yang lebih efisien," ungkap Rizal.

Diketahui, pada kuartal I 2017 Garuda Indonesia mencatatkan kerugian sebesar US$98,5 juta atau sekitar Rp1,31 triliun (kurs 13.300). Padahal pada kuartal I 2016, perseroan mencatatkan laba US$1,02 juta.  Kerugian yang terjadi pada kuartal I 2017 lalu disebabkan oleh beberapa hal. Antara lain, karena kenaikan harga bahan bakar avtur.

Kemudian, perseroan juga menangguk rugi karena sedikitnya jumlah penumpang yang diangkut. Hal ini sejalan dengan siklus tahunan sepinya penumpang di kuartal I. Ada beberapa rute penerbangan baik domestik maupun mancanegara mengalami kerugian akibat sedikitnya jumlah penumpang. Setidaknya ada 10-20 rute dalam daftar yang tengah dikaji oleh pihak maskapai mengenai keberlanjutannya. [kontan.co.id/photo special]