Warga Singapura Lebih Senang Belanja di Mal Daripada Online

TERNYATA perluasan Amazon.com Inc di Asia Tenggara, tepatnya di Singapura, ternyata harus menghadapi beberapa hambatan berat. Berbelanja di dalam pusat perbelanjaan berpendingin udara bisa dikatakan adalah "olahraga nasional" meskipun dengan keberadaan e-commerce sejak beberapa tahun silam.

Seperti yang dilansir dari Bloomberg.com, keterlambatan pengiriman juga merusak debut Amazon pada Juli lalu padahal ketika operasional dimulai mereka menjanjikan pengiriman hanya akan memakan waktu dua jam melalui Amazon Prime Now. Bahkan ketika pesanan dimasukkan melalui website utama Amazon yang berbasis di Amerika Serikat, Amazon tertinggal dengan toko web lokal, Lazada dan induknya, Alibaba Group Holding Ltd.

Bagi konsumen di negara tersebut, jarak sebuah toko atau pusat perbelanjaan biasanya dapat ditempuh dalam beberapa menit dari tempat tinggal mereka. Faktanya di Singapura ada begitu banyak pertokoan, dengan operator pusat perbelanjaan harus mengatur ulang operasional mereka setelah bertahun-tahun melakukan over-ekspansi.

Saat pemilik bisnis retail menyalahkan lemahnya ekonomi dan meningkatnya jumlah belanja online, Singapura merupakan salah satu negara yang perkembangan e-commerce-nya paling pesat.

Menurut Euromonitor Internasional tahun lalu Singapura hanya mencatat 4,6% penjualan retail online, dibandingkan dengan Inggris sebesar 15% atau Amerika Serikat sebesar 10%.

Sementara Chan Hock Fai, fund manager di Amundi Asset Management, mengatakan Singapura adalah negara kecil, sehiingga berbelanja adalah salah satu cara warganya menghabiskan waktu luang.

Perkembangan retail di Singapura juga sudah berlangsung sejak lama dan matang jika dibandingkan dengan bisnis retail yang baru berkembang atau pasar e-commerce. Tingkat pertumbuhan [pasar] lebih sulit didapat.

Menurut sebuah laporan oleh Google dan Temasek Holdings Pte., pasar e-commerce Asia tenggara diproyeksikan mencapai US$88 miliar pada 2025. Sementara Amazon berdiri kokoh di pasar e-commerce Jepang, perusahaan retail online tersebut secara umum melemah di China dengan eksistensi Alibaba dan JD.com Inc.

Disampinng itu India tetap menjadi prioritas utama dengan Chief Executive Officer Jeff Bezos yang melakukan ekspansi US$5 miliar untuk mengalahkan pesaing lokal yaitu Flipkart Online Service Pvt.

Australia diharapkan bisa segera menjadi pasar e-commerce baru Amazon lainnya.

Amanda Ip, juru bicara Amazon Prime Now, mengakui pihaknya menghargai respon menarik dari pelanggannya.

"Saat ini kami sudah meluncurkan Prime Now di 50 kota di sembilan negara dan Singapura merupakan event peluncuran terbesar," ujarnya.

Jin-Yan Ang (29), merupakan pelanggan Amazon Prime yang memutuskan untuk melakukan pembelian kamera Go-Pro dua hari sebelum dirinya berangkat berlibur. Setelah itu dirinya juga memesan anggur dingin untuk keperluan pesta dan kebutuhan harian lainnya.

"Meski demikian, Amazon Prime Now perlu meningkatkan ragam penawaran," katanya.

Dari segi kala, Lazada memang lebih besar dari Amazon, mereka menawarkan lebih dari 30 juta jenis produk jika dibandingkan dengan 10 ribuan produk yang ditawarkan lewat Prime Now.

Peritel online di Asia tersebut awalnya dibentuk oleh Rocket Internet SE pada 2011, saat ini mereka memmiliki 6,6 juta unique visitor setiap bulannya dengan peningkatan pemesanan tiga kali lipat sejak 2016.

Alexis Lanternier, CEO Lazada Singapura, mengatakan industri e-commerce memiliki potensi besar di Singapura.

"Belanja online di Singapura dipastikan mulai menarik perhatian publik dengan 3 dari 5 orang yang melakukan belanja online, kami yakin ini merupakan suatu langkah ke depan untuk industri ritel di Singapura," katanya.

Meskipun kehadiran ritel online di Singapura termasuk baru, konsumen telah melakukan belanja online selama bertahun-tahun untuk mendapatkan barang yang dikirim langsung dari AS, China, atau negara lainnya.

Menurut ComScore, hal tersebut mendukung tingginya jumlah pengunjung toko web Lazada-Alibaba yang memiliki 988.000 pengunjung unik pada Agustus, diikuti Amazon sebesar 698.000 pengunjung dan 432.000 pengunjung untuk Qoo10. Namun angka tersebut belum memperhitungkan jumlah pesanan mobile, jumlah penjualan Amazon Prime Now tidak disertakan dan tidak diungkapkan oleh perusahaan.

Lisa Tan (32), pemilik bisnis kecil, mengatakan meskipun belanja online lebih mudah dirinya masih lebih memilih untuk berbelanja langsung di toko.

"Saya menyukai pengalamannya - pemandangan maupun suasana berbelanja di pertokoan. Hal tersebut jauh lebih mudah di Singapura; semua serba berdekatan. Saya hanya berbelanja online untuk produk yang sulit didapat di Singapura melalui laman seperti Taobao dan Amazon," tuturnya.

Keputusan Amazon untuk mengenalkan Prime Now pertama kali di Singapura menggarisbawahi kebutuhan untuk mengirimkan barang kepada konsumen secepat mungkin.

Biasanya peretail online mengenalkan layanan pengiriman cepat setelah mereka yakin dengan kematangan pasar dan ketika mereka sudah mampu membangun jaringan logistik yang cepat. Dalam uji coba gratis yang terbatas, konsumen di Singapura bisa mendapatkan puluhan ribu barang dikirim langsung secara gratis jika jumlah pesanan lebih dari SG$40 atau US$29.

Sebelumnya warga Singapura hanya bisa memesan barang tertentu di website Amazon dengan beberapa barang dikenakan biaya pengiriman yang cukup mahal.

Offline Push

Bagi peretail online, iming-iming membuka toko untuk melayani pembeli di Singapura terbukti sulit untuk diabaikan.

Vivre Activewear, merek pakaian olahraga yang pertama kali diluncurkan secara online pada April 2014, memutuskan untuk membuka toko dua tahun yang lalu karena pelanggan lebih memilih untuk melihat barang secara langsung.

Menurut Kevin Chia, Vivre Activewear co-founder, mengatakan kini 80% dari total pendapatan merek tersebut berasal dari penjualan toko.

Anda harus hadir untuk pelanggan ketika mereka merasa siap untuk membeli," ujar Ali Potia, pengelola McKinsey & Co.'s Asia Consumer Insights Center.

Lazada sendiri telah bekerjasama dengan operator real estate Singapura, CapitaLand Ltd., untuk memberikan kemudahan bagi pelanggan berbelanja online dengan memberikan fasilitas pick up di pusat perbelanjaan terdekat.

"Hal ini menutup loop online-to-offline dan memberikan pelanggan pengalaman berbelanja secara penuh," ujar Lanternier.

Total penjualan Amazon dalam sekmen whole foods sebesar US$13,7 miliar menunjukkan kemungkinan untuk memiliki kehadiran secara fisik. Di India, Amazon baru-baru ini membeli 5% saham milik Shoppers Stop Ltd. dengan rencana untuk membuka sebuah tempat di toko retail tersebut agar pelanggan dapat mencoba produk yang dijual secara online.

"Alasan utama pelanggan tetap berbelanja di pusat perbelanjaan adalah pengalaman berbelanja yang tidak mereka dapatkan lewat e-commerce," ujar Tan Yong Kee, managing director AsiaMalls Sdn, yang mengoperasikan enam pusat perbelanjaan di Singapura. [antaranews/photo special]