Ternyata Kesadaran Berasuransi Wisatawan Indonesia Masih Rendah

TERNYATA wisatawan di Indonesia dinilai masih sangat rendah kesadaran dirinya dalam berasuransi, padahal tingkat mobilitas wisatawan di Tanah Air semakin tinggi dari waktu ke waktu.

Menurut Country CEO AXA Indonesia yang juga President Director AXA General Indonesia Paul Henri Rastoul dalam siaran persnya mengatakan asuransi perjalanan merupakan bagian penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam satu perjalanan wisata untuk menekan risiko di dalam perjalanan seperti sakit, kecelakaan, hingga kematian.

"Indonesia baru mencakup 5% kesadaran masyarakatnya dalam mengambil asuransi perjalanan. Masih di bawah Singapura 75% dan Malaysia 20%. Tercatat jumlah perjalanan wisatawan Indonesia setiap tahunnya selalu meningkat, baik untuk wilayah domestik maupun ke luar negeri,” ujarnya.

Dikatakan, hanya saja di tengah meningkatnya angka tersebut, kesadaran wisatawan Indonesia untuk mengasuransikan perjalananya masih rendah. Berwisata atau travelling bagi sebagian besar masyarakat Indonesia sudah menjadi bagian dari gaya hidup bahkan tidak sedikit yang menjadikannya sebagai kebutuhan.

“Data Kementerian Pariwisata menyebutkan pada 2016 jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri mencapai 7 juta orang atau meningkat 6% dibanding 2015. Sementara hingga pertengahan 2017, jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian di lingkup domestik telah mencapai 200 juta orang. Target pemerintah sendiri, hingga akhir 2017 mencapai 265 juta orang. Angka itu belum termasuk perjalanan umrah yang selalu meningkat tiap tahunnya,” katanya.

Ditambahkannya, data dari Kementerian Agama menyebutkan, pada 2015 jumlah jamaah umrah Indonesia mencapai 717.000 orang dan meningkat 14% pada 2016 menjadi 818.000 jamaah umrah.

"Angka tersebut tentunya menjadi peluang, hanya saja PR-nya adalah edukasi market. Selama ini masyarakat Indonesia membeli asuransi perjalanan hanya untuk melengkapi persyaratan visa. Maka untuk dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap asuransi perjalanan, salah satunya adalah kerja sama yang simultan antara regulator, industri, dan biro perjalanan untuk mengadopsi satu program bersama yang dapat meningkatkan kesadaran tentang asuransi terhadap masyarakat,” ungkap Paul.

Dijelaskannya kembali, selain itu edukasi terhadap pasar bahwa asuransi perjalanan tidak hanya meng-cover kesehatan dan kejadian personal selama perjalanan. Tapi juga pengalaman yang tidak menyenangkan yang mungkin didapat konsumen saat bepergian. [photo special]