Bayu Buana Kini Mulai Lebih Fokus Lagi ke Bisnis Wisata

ADALAH PT Bayu Buana Tbk optimistis bisa meraup pendapatan Rp1,9 triliun sampai akhir tahun ini. Target tersebut naik 24% dari pendapatan tahun lalu yang tercatat Rp1,7 triliun.

Menurut Agustinus Pake Seko, Presiden Direktur Bayu Buana mengatakan target ini nampaknya tak terlalu sulit bagi Bayu, sebab, bisnis wisata di Tanah Air lagi naik daun. Saat ini masih on the track ke Rp1,9 triliun.

“Agar bisa terealisasi, Bayu bakal mendongkrak wisatawan lokal yang beranjangsana ke luar negeri (outbound) naik 20% dari tahun lalu yakni antara 3.500 sampai 4.000 wisatawan. Sebagai langkah antisipasi, Bayu Buana sudah memesan tiket pesawat ke luar negeri sebanyak 5.000-6.000 kursi sepanjang tahun ini,” ujarnya.

Dikatakan, guna meningkatkan outbound, Bayu Buana mengelar Bayu Buana Holiday Travel Fair 2017 pada 29 September hingga 1 Oktober 2017 dengan target pengunjung hingga 10.000 orang. Sedangkan untuk bisnis inbound (wisatawan asing ke dalam negeri), Bayu Buana menargetkan bisa mendatangkan 5.000 wisman pada tahun ini. Kami optimistis target inbound dan outbound pada tahun ini bisa tercapai.

“Langkah mengejar bisnis paket wisata tersebut memang harus Bayu Buana lakoni. Sebab, kontribusi pendapatan dari bisnis non tiket masih kalah dengan pendapatan tiket. Saat ini, pemasukan dari bisnis tiket pesawat berkontribusi hingga 65% dari total pendapatan Bayu Buana. Sedangkan sisanya, 35%, baru dari bisnis non tiket yang didalamnya termasuk bisnis paket wisata,” katanya.

Ditambahkannya, contoh tahun lalu, sekitar Rp1 triliun pendapatan berasal dari penjualan tiket. Sedangkan dari bisnis non tiket, termasuk di dalamnya bisnis wisata memperoleh pemasukan sekitar Rp700 miliar. Makanya, perusahaan ini mulai merambah bisnis umrah mulai tahun lalu dengan mendirikan anak usaha bernama PT Babussalam Buana.

“Maklum, bisnis umrah hingga kini begitu menjanjikan dan masih terbuka. Hasilnya tergolong lumayan. Bisnis umrah sudah bisa memberi kontribusi bisnis antara 10% sampai 15% ke perusahaan. Selain aksi tersebut, Bayu Buana juga mulai serius menghadapi persaingan bisnis wisata dengan perusahaan digital yang berkecimpung di bisnis wisata serta tiket. Sebut saja Traveloka, dan sejumlah bisnis wisata online lainnya. Pihak kami sudah menyiapkan beberapa strategi,” ungkapnya.

Dijelaskannya, perusahaan akan terus buka cabang. Pasar wisata Indonesia ini tergolong unik. Meski ekonomi digital mulai marak, tapi konsumen Indonesia masih doyan dengan transaksi yang bersifat tradisional. Termasuk di bidang wisata. Artinya, dalam transaksi bisnis masih suka face to face dengan petugas dari Bayu Buana.

"Untuk bisa menggeser 100% ke format TI masih butuh waktu lama. Amerika saja pasar online baru 24% dan sisanya masih konvensional. Kami sendiri punya website jelaja.com di pasar digital.Makanya, Bayu Buana masih tetap aktif membuka cabang untuk mengakomodir pasar konvensional tersebut. Sampai akhir tahun ini, pihaknya akan membuka dua cabang lagi. Satu cabang ada di Bintaro, dan satu cabang lagi berbentuk kemitraan waralaba ada di Kalimantan.

“Selain itu tahun depan, perusahaan ini juga masih tetap akan membuka cabang sebanyak enam buah. Lokasinya ada yang di Jakarta dan di luar Jakarta. Adapun saat ini Bayu Buana sudah punya 23 cabang di beberapa daerah. Sedangkan untuk membuka cabang, Bayu Buana bakal mengandalkan dana sendiri. Adapun bentuknya bisa berupa bangun sendiri, sewa atau akuisisi. Rata-rata satu cabang butuh dana Rp1 miliar,” jelasnya. [kontan.co.id/photo traveltext]