Tingkatkan Produktivitas & Kualitas Layanan, Citilink Perluas Digitalisasi

MASKAPAI Citilink Indonesia terus melakukan berbagai upaya yang dapat meningkatkan produktivitas kerja dan kualitas pelayanan penerbangan, termasuk memperluas teknologi digital di semua aspek korporasi. Tujuannya guna mempercepat peningkatan profit, efisiensi biaya dan mendorong terciptanya loyalitas konsumen yang semakin baik.

Menurut Vice President Information Technology Citilink Indonesia Achmad Royhan dalam keterangan resminya menyatakan sebagai maskapai berbiaya murah pemanfaatan teknologi digital mutlak dilakukan sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan. Dalam era digital, maskapai harus bisa menjaga struktur biayanya tetap efisien dengan pelayanan yang maksimal sehingga optimalisasi kegiatan operasional harian penerbangan yang kompleks bisa terkelola efektif dan efisien.

“Hal itu menyikapi hasil studi bisnis Microsoft yang memperkirakan lonjakan cukup besar dalam transformasi digital di seluruh perekonomian Asia-Pasifik, dan pengaruhnya bagi industri penerbangan. Studi yang melibatkan 15 negara Asia-Pasifik tersebut memperlihatkan bahwa transformasi digital telah mengubah dengan cepat pola bisnis tradisional,” ujarnya.

Dikatakan, dalam studi Microsoft yang dirilis resmi awal pekan lalu, Citilink Indonesia dijadikan contoh oleh Microsoft Asia-Pasifik sebagai perusahaan yang berhasil melakukan transformasi digital dan mampu membuat pertumbuhan positif perusahaan secara signifikan.

“Studi Microsoft menyebutkan, transformasi digital di Indonesia akan menyumbang sebesar US$22 miliar pada Produk Domestik Bruto (PDB) hingga tahun 2021 dan meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi sebesar 0,4% per tahun,” katanya.

Ditambahkannya, melalui pengelolaan data yang maksimal tentunya dapat meningkatkan aspek kualitas layanan, proses bisnis dan margin serta mendorong tingkat kepuasan pelanggan. Citilink Indonesia juga sejak awal memposisikan diri sebagai IT-based company dimana semua prosesnya menggunakan sistem dan aplikasi sehingga data tersimpan dengan baik.

"Sejak tansformasi digital dilakukan empat tahun lalu, terlihat jelas ekspansi bisnis Citilink Indonesia berlangsung cepat. Inovasi bisnis bisa segera diciptakan dan direalisasikan. Transformasi digital itu mendapat pengakuan dan penghargaan dari Skytrax dengan meraih predikat maskapai berbiaya rendah bintang empat pada awal Februari. Dimana salah satu aspek yang diaudit secara ketat oleh Skytrax adalah manfaat teknologi informasinya,” ungkap Royhan.

Dijelaskannya, dalam industri penerbangan terdapat dua sektor yang krusial dalam memanfaatkan data adalah bidang operasional dan penjualan. Pada sisi operasional data digunakan untuk meningkatkan ketepatan waktu penerbangan, efisiensi dalam pengaturan kru dan rotasi pesawat. Sedangkan sisi penjualan, data mengenai tingkat keterisian pesawat dan ASK (average seat per kilometer) digunakan untuk memberikan tarif paling optimal dari setiap rute. Demikan juga dengan data pembelian di online travel agent bisa digunakan untuk menyusun strategi penjualan dan marketing.

Citilink Indonesia terus mempercepat dan memperluas digitalisasi di bidang operasional dan bisnisnya, mengingat peluang ekonomi global sektor transportasi semakin kompleks dan membutuhkan kecepatan dan keandalan data. International Air Transport Association (IATA) bahkan menyebut bahwa Indonesia akan menjadi pasar keenam terbesar di dunia dalam sektor transportasi udara pada tahun 2034 dengan jumlah penumpang diperkirakan mencapai 270 juta orang per tahun.

Lima manfaat utama yang dapat diperoleh maskapai dengan melakukan transformasi digital, yaitu produktivitas yang melonjak, profit margin yang naik, memperbanyak jumlah customer, meningkatkan pendapatan melalui produk dan layanan yang sudah ada maupun produk dan layanan baru.

Sementara President Director Microsoft Indonesia Hars Izmee sendiri mengatakan bahwa Indonesia sudah berada dalam fast track transformasi digital yang benar dan hal itu akan mempercepat pertumbuhan perusahaan lebih jauh. Dalam empat tahun ke depan diprediksi sekitar 40% PDB Indonesia berasal dari produk dan layanan digital.  [photo special]